Puisi pendidikan anak yang dikemukakan oleh Dorothy Law Nolte sebuah inspirasi dalam kehidupan untuk kita seorang pengajar di sekolah ataupun orang tua dalam mendidik anak
Jenis-Jenis Garis
Tahukah kalian tentang garis? Garis itu ternyata banyak macamnya,ingin tahu apa?dan seperti apa bentuknya? silahkan simak postingan berkut ^_^
8 Keterampilan Mengajar
Setiap orang harus memiliki keterampilan terutama dalam profesi yang dijalaninya, lalu keterampilan apa yang harus dimiliki seorang guru? Silahkan Cek disini ^_^
Seperti yang kita ketahui bahwa kini kita beranjak pada era globalisasi dimana kita semakin terkait dan tergantung pada hubungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia. Sehingga kita harus menguasai bahasa yang diakui secara international, yaitu diantaranya adalah bahasa Inggris. Sedikit untuk membantu kawan-kawan sekalian dalam pembelajaran bahasa Inggris saya akan memberikan sebuah applikasi untuk handphone. Karena saat ini saya ketahui orang jaman sekarang tak lepas dari yang namanya HANDPHONE . Jadi, saya memberikan cara pembelajaran e-mobile. Kamus PD-English adalah salah satu applikasi pilihan saya untuk kawan-kawan karena ini kamus English - Indonesia juga Indonesia - English yang saya ketahui freeware ^_^!
Parantos kacarioskeun kapungkurna di hiji lembur aya hiji peperangan anu nyayogikeun hiji intrik sareng dilema dina kahirupan, nyaeta perkawis cinta. Kacarioskeun yen aya dua pameget anu resep ka hiji istri. Pameget dua eta teh kacarioskeun mah saurang raja, teras istri eta teh nyaeta hiji puteri dina hiji karajaan. Singkat carita, dua pameget eta teh mangributkeun saha anu bisa menangkeun istri eta nu sakitu geulis na. Kajadian we dina hiji waktos nu te disangki-sangki si dua pameget eta teh papendak teras geulut marebutkeun istri eta. Dina waktos nu sanes pas aya hiji pameget nu bade nyampeurkeun istri eta kaleresan nuju dangdan teras rewas ku margi bade disampeurkeun ku pameget ta. Bakating riweuh na hayang kabur ti udagan pameget eta nepi ka dangdanan na teh mancawura te puguh, marurag we di hiji tempat nu ayeuna ka uninga na disebat Darangdan.
Dumasar kana carita anu di luhur eta hiji tempat katelah darangdan kumargi aya jalmi anu gurung gusuh dina dangdana. Darangdan teh ayenamah katelahna salah sahiji kacamatan tina tujuh belas kacamatan anu aya di kabupaten Purwakarta. Alhamdulillah dina kahirupan nana mah kecamatan Darangdan teh tiasa kasebat asri keneh, ari legana wilayah darangdan kirang langkung 6.751 desa anu aya di kacamatan darangdan teh aya 15 desa nyaeta Darangdan, Nangewer, Pasirangin, Neglasari, Linggasari, Sawit, Sirnamanah, Depok, Legoksari, Mekarsari, Gununghejo, Sadarkarya, Linggamukti, Cilingga, sareng Nagrak.
Sedikit nih ada cerita singkat tentang daerah asal saya, yaitu Kota Karawang tercinta ^^. dan nama jln. rumah saya... tapi maaf ini versi bahasa sundanya...
Abdi linggih di Karawang jalan Anjun Kanoman, bade nerangkeun sakedik asal ngaran eta tempat jadi Karawang sareng jalan Anjun Kanoman.
Dina jaman karajaan nu dipingpin ku Sri Baduga Maha Raja, Karawang mangrupakeun salah sahiji kota ti Pajajaran nu mangrupakeun kota palabuhan di sisi walungan Citarum . Kulantaran eta tempat nu di anggona waktos karajaan eta sisi walungan, jadi seueur ku rawa na da jaman bareto mah can seueur panduduk na. Jadi weh eta tempat di ngaranan Karawang. tina hartos Ka-Rawa-an nu hartos na tempat pinuh kun rawa. Ngaran eta sasuai jeung kaayaan geografis Kabupaten Karawang keur jaman bareto nu seueur ku rawa-rawa. Buktos nu nguatkeun pendapat eta, nyaeta ku seueur na ngaran-ngaran daerah di Kabupaten Karawang nu di payunan ku kata Rawa sapertos : Rawasari, Rawagempol, Rawa sikut, Rawa Gede, Rawa Merta, Rawa Gabus jeung rawa-rawa nu sanesna.
Lamun asal muasal eta nami jalan jadi Anjun Kanoman eta paduan tinu “Anjun” nu harti na Tukang nu nyieun karajinan tinu garabah, “Kanoman” nu tinu ngaran daerah di Cirebon. Kulantaran di sakitar daerah jalan eta seueur jalmi anu ngadamel karajinan tinu garabah jadi weh kenging kata Anjun da kungsi aki abdi oge jadi bandar karajinan garabah eta. Lamun Kanoman na eta nahanya eta teh ti ngaran asal daerah ti Cirebon? Kulantaran eta daerah seueur di tempatan ku urang Cirebon jadi weh eta ngaran daerah dibawakeun ka Karawang. Jadi Anjun Kanoman teh nu nyieun garabah di daerah Kanoman.
Lanjutan dari Konsep dasar PKN yang sebelumnya nihc ^^
Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan atau motto bangsa Indonesia yang terdapat dalam lambang negara “Burung Garuda”. Istilah tersebut diambil dari buku Sutasoma karangan Mpu Tantular yang ditulis dalam bahasa Sanskrit. Bhineka Tunggal Ika menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang heterogen, yaitu bangsa yang mempunyai keanekaragaman, baik dalam agama, budaya, maupun ras dan suku bangsa. Sejarah perjalanan bangsa Indonesia telah membuktikan, bahwa jauh sebelum tahun 1908 perjuangan bangsa Indonesia selalu dapat dipatahkan oleh pemerintah kolonial, salah satu penyebabnya karena perjuangan bangsa Indonesia masih bersifat kedaerahan, yaitu untuk kepentingan daerah atau wilayahnya masing-masing. Tahun 1908 telah dirintis perjuangan yang bersifat nasional, yaitu dipelopori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dengan mendirikan organisasi modern yang diberi “Boedi Utomo”. Ikrar para pemuda yang hanya akan menjungjung tinggi, Satu Tanah Air; Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia, menunjukan bahwa kesadaran bangsa Indonesia akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa semakin meningkat. Kebhinekaan telah menjadi kekayaan khusus bagi bangsa Indonesia yang amat menarik, baik bagi bangsa Indonesia sendiri ataupun bagi bangsa-bangsa lain di dunia sehingga dapat menarik devisa melalui kunjungan wisata atau kunjungan lainnya. Kebhinekaan adalah sifat nyata bangsa Indonesia yang sering kita banggakan namun sekaligus kita prihatinkan. Hal ini dikarenakan mengatur masyarakat yang heterogen jauh lebih sulit dibandingkan masyarakat homogen. Indonesia adalah negara yang terdiri dari 33 provinsi maka apabila setiap provinsi mempunyai satu atau dua keinginan/program maka di Indonesia paling tidak ada 33 sampai 66 keinginan/program yang harus diakomodasi. Contoh konkret adalah apa yang terjadi di negara lain, misal di Jepang, di mana Jepang adalah negara yang sudah jauh lebih maju dan makmur. Salah satu faktor pendukungnya adalah keseragaman kebudayaan dan bahasa. Sebaliknya India, di mana suasana ketenangan, keamanan dan kerja sama antara suku-suku bangsa dan golongan amat terganggu oleh perbedaan norma-norma kasta dan perbedaan agama. Sementara itu untuk menciptakan persatuan dan kesatuan di tingkat nasional kadang – kadang terganggu oleh masalah kebijaksanaan nasional. Oleh karena itu, amatlah logis dalam upaya mengantisipasi terjadinya perpecahan antar suku bangsa MPR sebagai lembaga tertinggi negara dalam sidang tahunannya yang pertama pada tahun 2000 mengeluarkan Ketetapan Nomor V/ MPR/ 2000 tentang “Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional” di mana dala salah satu alimatnya menyatakan bahwa : Konflik sosial budaya telah terjadi karena kemajemukan suku, kebudayaan dan agama yang tidak dikelola dengan baik dan adil oleh pemerintah maupun masyarakat. Bangsa Indonesia memerlukan kondisi penyelenggaraan negara yang mampu memahamu dan mengelola kemajemukan bangsa secara adil sehingga dapat terwujud toleransi, dan kerukunan sosial, kebersamaan dan kesetaraan berbngsa. Kebhinekaan dapat menjadi tantangan atau ancaman karena kebhinekaan mudah membuat orang untuk berbeda pendapat yang lepas kendali, tumbuhnya perasaan kedaerahan atau kesukuan atau kekerasan yang sewaktu-waktu bisa menjadi ledakan yang akan mengancam integrasu atau persatuan dan kesatuan bangsa. Melalui dialog kita akan dapat mengetahui apa sebenarnya yang dipermasalahkan atau diinginkan oleh masyarakat di suatu wilayah atau daerah. Dengan mengetahui apa yang menjadi harapan, keinginan dan cita-cita masyarakat tersebut, tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat daerah yang bersangkutan mewujudkannya dalam bentuk kebijakan atau program yang diikuti dengan berbagai alternatif kebijakan dan alternatid tindakannya. Sebagai salah satu upaya yang dilakukan pemerintah pusat dalam mengantisipasi apa yang menjadi harapan dan keinginan daerah-daerah di Indonesia maka mulai tahun 2001 diterapkan otonomi daerah. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan yang matang dari daerah-daerah untuk menerima dan melaksanakan berbagai otonomi tersebut. Keanekaragaman bangsa Indonesia dilatarbelakngi oleh jumlah suku-suku bangsa Indonesia yang mendiami wilayah Indoensia sangat banyak, dan tersebar, di mana setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Contoh lain dalam aspek bahasa, setiap daerah mempunyai bahasa daerahya masing-masing, bahasa daerah orang Jayapura akan berbeda dengan bahasa daerah orang Dayak, bahasa daerah orang Cirebon akan berbeda dengan bahsa daerah orang Ciamis dan sebagainya. Keanekaragaman tampak pula dalam hasil-hasil kebudayaan daerah di wilayah Indonesia, seprti tarian dan nyanyian. Hampir semua daerah atau suku bangsa mempunyai jenis tarian dan nyanyian yang berbeda, begitu juga dalam hasil karya atau kerajinan. Contoh tari-tarian daerah, misalnya tari Topeng (Cirebon); tari Kipas (Sulawesi Selatan), tari Piring dan tari Payung ( Sumatera Barat). Begitu pula halnya dengan nyanyian daerah, ada lagu Es Lilin, Tokecang, Cingcangkeling, Ole-Ole Bandung, Tutu Koda, Naluya, Suwe Ora Jamu, Apuse, dan sebagainya. Koentjaraningrat (1993) menguraikan secara garis besar unsur-unsur pokok yang hidup dalam seleksi dari 15 kebudayaan di Indonesia. Ke-15 kebudayaan itu, misalnya Sebelah Barat Sumatera ada kebudayaan Simalur, Nias, Banyak, Batu, Mentawai, dan Enggano. Orang Simalur dan Banyak lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan dan adat istiadat Aceh , termasuk agama yang dipeluknya juga mayoritas Islam. Sedangkan orang Nias belum pernah terpengaruh oleh kebudayaan Hindu maupun Islam, jadi lebih banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Megalithikum (kebudayaan batu). Agam yang dianut Nias pada umumnya Kristen dan Katholik. Sementara itu orang Mentawai mempunyai kebudayaan bercocok tanam padi, dan agama yang dianutnya Kristen dan Katholik, sedangkan bagi masyarakat Enggano hampir sama dengan kebudayan orang Mentawai. Selanjunya Koentjaraningrat (1993:32-33) mengelompokkan 15 kebudayaan yang dimiliki tersebut ke dalam 6 tipe sosial budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, yaitu berikut ini. 1. Tipe masyarakat berkebun yang amat sederhana dengan keladi dan ubi jalar sebagai tanaman pokoknya dalam kombinasi dengan berburu atau meramu; sistem dasar kemasyarakatannya berupa desa terpencil tanpa diferensiasi dan stratifikasi yang berarti. Contoh kebudayaan Mentawai di Pantai Utara Irian Jaya. 2. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau sawah dengan padi sebagai tanaman pokok; Sistem dasar kemasyarakatannya berupa “Komunitas Petani”. Masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya itu mewujudkan suatu peradaban kepegawaian yang dibawa oleh system pemerintahan kolonial beserta Zending dan Missie atau oleh Pemerintahan Republik Indonesia yang merdeka. Contoh Kebudayaan Nias, Batak, Kalimantan Tenga, Minahasa, Flores, dan Ambon. 3. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang dasar kemasyarakatannya berupa desa komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang sedang; masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan berdagang dengan pengaruh yang kuat dari agama Islam. Contohnya, kebudayan Aceh, Minangkabau, dan Makasar. 4. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di sawah dengan padi sebagai tanaman pokoknya; system dasar kemasyarakatannya berupa komunitas petani. Masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya itu mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan pertanian bercampur dengan peradaban kepegawaian yang dibawa oleh sistem pemerintahan kolonial. Contoh kebudayaan Sunda, Jawa, dan Bali. 5. Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan ektor perdagangan dan industru yang lemah. Contoh kebudayaan kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan. 6. Tipe masyarakat metropolitan yang mulai mengembangkan suatu sektor perdagangan dan industri yang agak berarti, tetapi masih didominasi oleh aktivitas kehidupan pemerintah, dengan suatu sektir kepegawaian yang luas dan dengan kesibukan politik di tingkat daerah maupun nasional. Contoh kebudayaan kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan.
Awan mutaqin (1992: 49-50) menyatakan bahwa konstruksikeragaman kebudayan bangsa Indonesia dapat dirumuskan berdasarkan nilai adaptasi ekologis, sistem kemasyarakatan dan berbagai pengaruh unur-unsur dari luar, ada pun perinciannya ebagai berikut. 1. Budaya berkebun sederhana. 2. Budaya berladang dan bersawah. 3. Budaya bersawah. 4. Budaya Masyarakat Kota. 5. Mudaya Metropolitan.
Koentjoroningrat (199:384) ada 4 apek yang haru diperhatikan dalam menganalisis hubungan antar uku-uku banga dan golongan yaitu : 1. Umber-sumber konflik. 2. Potensi untuk toleransi. 3. Sikap dan pandangan dari suku bangsa atau golongan terhadap sesama suku bangsa atau golongan. 4. Kondisi masyarakat di mana hubungan dan pergaulanantar suku bangsa atau golongan tersebut berlangsung.
Selanjutnya dikatakan pula oleh Koentjoroningrat bahwa sumber-sumber konflik di negara berkembang termauk Indonesia ada 5, yaitu berikut ini. 1. Konflik bisa terjadi kalau warga dari dua suku bangsa masing-masing bersaing dalam hal mendapatkan mata pencaharian hidup yang sama. 2. Kalau warga dari satu uku bangsa , mencoba memaksakan unsur-unur dari kebudayaannya kepada warga dari suatu uku bangsa lain. 3. Konflik yang sama daarnya, tetapi lebih fanatik dalam wujudnya bisa terjadi kalau warga dari suatu bangsa mencoba memaksakan konsep-konsep agamanya terhadap warga dari suku bangsa lain yang berbeda agama. 4. Konflik akan terjadi kalau suku-suku bangsa lain secara politis. 5. Potensi konflik terpendam ada dalam hubungan antara suku-suku suatu bangsa yang telah bermusuhan secara adat.
Meskipun demikian, situasinya dan kondisi serta keadaan Indoneia juga sangat menguntungkan karena paling tidak ada 2 potensi untuk bersatu, yaitu berikut ini : 1. Warga dari dua suku bangsa yang bersangkutan yang berbeda dapat saling bekerja sama secara sosial ekonomi. 2. Warga dari dua suku bangsa yang beda dapat hidup berdampingan konflik, kalau ada orientasi ke arah suatu golongan ketiga yang dapat menetralisasi hubungan antara kedua suku bangsa tersebut.
Sedikit membahas tentang sejarah Bangsa Indonesia.. dari mata kuliah konsep dasar PKN nich ^.^
Perjuangan bangsa Indonesia dan semangat kebangsaan tidak dapat dipisahkan dalam proses perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Menurut Ernest Renan, bangsa adalah sekelompok masyarakat yang bersatu atau dipersatukan oleh karena adanya persamaan nasib dan pengalaman di masa lampau dan mempunyai cita-cita serta tujuan yang sama untuk kehidupan di masa depan. Misalnya pengalaman penderitaan selama diterapkannya Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) oleh Van Den Bosch tahun 1828. Adapun pokok-pokok Peraturan Tanam Paksa itu adalah:
a.Petani diwajibkan menyediakan 1/5 dari tanahnya yang akan ditanami oleh tanaman wajib, yang akan diperdagangkan oleh Pemerintah. Tanaman wajib itu berupa taruma (nila), tebu, tembakau, kopi.
b.Hasil tanaman wajib diserahkan kepada pemerintah dengan harga yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
c.Tanah yang dikenakan tanaman wajib dibebaskan dari pajak tanah.
d.Tenaga yang diperuntukkan bagi pemeliharaan tanaman wajib, tidak boleh melebihi tenaga kerja demi penggarapan tanah (sawah).
e.Mereka yang tidak memiliki tanah, dikenakan wajib kerja di perkebunan selama 65 hari setahunnya.
f.Kerusakan tanaman wajib di luar kesalahan petani ditanggung oleh Pemerintah
Meskipun demikian, di tengah-tengah penderitaan rakyat, di negeri Belanda terjadi proses pembangunan besar-besaran hasil keringat rakyat di nusantara. Muncul pula suara-suara yang ingin membela rakyat jajahan di parlemen Belanda terutama dari partai leiberal yang memenangkan pemilu saat itu. Orang-orang yang menaruh simpatik atas penderitaan rakyat di nusantara itu adalah:
1.Baron Van Houvell, seorang pendeta yang bekerja bertahun-tahun di wilayah nusantara sehingga tahu kondisi rakyat di tanah air saat ini. Ketika kembali ke negeri Belanda, ia menjadi anggota Parlemen dan membeberkan tentang kesengsaraan rakyat di Indonesia.
2.Eduard Douwes Dekker, terkenal dengan nama samaran Multatuli, bekas Asisten Residen Lebak yang minta berhenti karena tidak tahan melihat kesengsaraan rakyat Lebak akibat penjajahan Belanda. Dalam bukunya ”Max Hevelaar” yang ditulis tahun 1860 menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat Banten akibat penjajahan Belanda.
3.Mr. Van Deventer, yang gigih membela kepentingan rakyat Indonesia dan berpendapat bahwa Belanda mempunyai hutang budi kepada rakyat Indonesia. Hutang ini harus dibayar oleh Belanda dan ia mengusulkan agar Belanda menerapkan Etische Politic, ialah politik balas budi yang terdiri atas tiga program, edukasi, transmigrasi, dan irigasi.
Ada tiga jenis pergerakan politik pada masa 1908-1920, ialah:
a.Organisasi-organisasi Indonesia yang terdiri atas Budi Utomo, Sarekat Islam, perkumpulan-perkumpulan berdasarkan kedaerahan.
b.Perkumpulan campuran, yakni bangsa Indonesia dan bukan bangsa Indonesia, seperti Insulinde, Nationaal Indische Partij, De Indische Partij-Douwes Dekker, Indische Sociaal Democratische Vereeninging-Sneevliet, Indische Sociaal Democratische Partij.
c.Perkumpulan campuran yang bertujuan Indonesia tetap dalam ikatan dengan negeri Belanda.
Pertama, Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan kebangsaan pertama di Indonesia yang berbentuk modern, yaitu organisasi dengan pengurus yang tetap, ada anggota, tujuan, program kerja berdasarkan peraturan yang ada. Budi Utomo didirikan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908 yang dilatarbelakangi oleh propaganda Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk memajukan bangsa Indonesia di bidang pengajaran yang pada saat ini kondisinya sangat terbelakang bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.
Kedua, Sarekat Islam didirikan di Solo tahun 1911 oleh Haji Samanhudi. Lahirnya Sarekat Islam lebih banyak dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1.Perdagangan bangsa Tionghoa yang telah banyak menghambat perdagangan Indonesia, seperti monopoli bahan-bahan batik dan tingkah laku sombong orang Tionghoa sesudah terjadinya revolusi di Tiongkok.
2.Semakin meningkatnya penyebaran agama Kristen di tanah air dan adanya ucapan penghinaan parlemen Belanda tentang tipisnya kepercayaan beragama orang Indonesia.
3.Cara adat istiadat lama yang terus dipakai di daerah-daerah kerajaan yang makin lama makin dirasakan sebagai penghinaan.
Dalam Kongres kedua di Solo diputuskan bahwa Sarekat Islam hanya terbuka untuk orang Indonesia dan bukan untuk pegawai Pangreh Praja agar tidak berubah corak dan tetap menjadi organisasi rakyat. Tujuan dalam anggaran dasar pun mengalami perluasan, yakni:
a.Memajukan pertanian, perdagangan, kesehatan, pendidikan dan pengajaran.
b.Memajukan hidup menurut perintah agama dan menghilangkan paham-paham keliru tentang agama Islam.
c.Mempertebal rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong diantara anggotanya.
Kongres ketiga di Bandung 17-24 Juni1916, Kongres Nasional pertama yang dihadiri sebanyak 80 Sarekat Islam daerah mengirimkan perwakilan dari anggota yang jumlahnya telah mencapai 800.000 orang. Kongres yang dipimpin oleh Tjokroaminoto mencantumkan istilah Nasional dimaksudkan bahwa Sarekat Islam menuju kearah persatuan yang teguh dari semua golongan Bangsa Indonesia. Sarekat Islam ingin membawa Bangsa Indonesia sebagai suatu “nation”.
Sementara itu National Indische Partij (NIP) dan ISDV yang bersosialisme kiri tidak banyak anggotanya mulai melihat keberhasilan Sarekat Islam (SI). Namun NIP tidak berhasil masuk dalam SI karena keanggotaan NIP meliputi pula peranakan Belanda dan Tionghoa. Sedangkan ISDV memiliki kesamaan dalam arah organisasi dan aksi antara lain menentang adat-adat kuno dan hak istimewa golongan Tionghoa.
ISDV yang masuk ke tubuh SI hanya sebagai cara untuk meraih banyak anggota, sehingga akhirnya ISDV mendeklarasikan diri sebagai organisasi komunis. Akibat dari gerakan ini, jumlah anggota SI menurun dan SI yang ada dibawah pengaruh Semaun dan Darsono berubah menjadi SI Merah dan akhirnya menjadi Partai Komunis Indonesia.
Selain organisasi yang bersifat nasional, pada dekade tersebut muncul pula organisasi/perkumpulan yang berdasarkan kedaerahan, seperti Pasundan, Serikat Sumatera, Perkumpulan orang Ambon, dan Perkumpulan orang Minahasa.
Perkumpulan Pasundan, didirikan pada bulan September 1914 di Jakarta. Pasundan tidak begerak di lapangan politik melainkan di bidang kebudayaan. Pasundan merupakan organisasi yang bukanhanya untuk orang kelompok atas melainkan juga untuk kelompok rakyat kecil.
Serikat Sumatera, didirikan pada tahun 1918 oleh orang-orang Sumatera yang ada di Jakarta menjelang pendirianVolksraad. Sasaran program kerja Serikat Sumatera adalah politik dengan tujuan :
(1)Meningkatkan pengaruh bangsa Indonesia dalam pemerintahan negeri sehingga pada gilirannya dapat tercapai pemerintah sendiri ;
(2)Memperjuangkan hak pemerintah daerah (otonomi) seluas-luasnya dengan prinsip demokrasi ;
(3)Mencegah terjadinya pertentangan antar kelompok, kelas ataupun antarsuku bangsa. Di bidang ekonomi, perkumpulan ini ingin juga memajukan perekonomian orang Sumatera.
Perkumpulan Orang Ambon, ada beberapa perumpulan orang Ambon, seperti “Wilhelmina”, didirikan tahun 1908 di Magelang oleh kamum Militer yang berisaha saling hidup rukun, mengeratkan hubungan dengan negeri Belanda serta memajukan pengajaran. Perkumpulan Ambonsch Studien fonds oleh Dr. Tehuperopry tahun 1909 yang berusaha memberi penerangan tentang hal dan kesempatan belajar dan memberi sokongan uang kepada pelajar-pelajar yang cakap. Selain ituu, ada beberapa perkumpulan orang Ambon, seperti Ambon’s Bond didirikan tahun 1911 oleh pegawai negeri di Amboina yang berusaha memajukan perngajaran dan penghidupan rakyat Ambon; dan “Sou Maluku Ambon” yang didirikan beberapa tahun kemudian untuk memajukan perekonomian penduduk.
Pada eriode tahun 1920 – 1930 ditandai oleh berdirinya berbagai organisasi yang bersifat kedaerahan dan organisasi yang cukup besar pengaruhnya dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ialah Partai Nasional Indonesia (PNI). Sebagai organisasi kebangsaan, PNI berasaskan menolong diri sendiri (selfhelp), non-kooperatif dan marhaenisme yang bertujuan :
Bidang politik, memperkuat rasa kebangsaan umumnya dan rasa kesadaran atas persatuan bangsa Indonesia khususnya.
Bidang ekonomi, memajukan perdagangan kebangsaan, kerajinan, bank-bank, dan koperasi.
Bidang sosial, memajukan pengajaran yang bersifat kebangsaanmemajukan kesehatan rakyat da membasmi pemadat dan peminum.
Pada tahun 1920-an ini, ada lagi peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia menuju suatu negara kesatuan adalah munculnya berbagai organisasi pemuda dari berbagai wilayah di nusantara yang menyatakan keinginan untuk bersatu sebagai suatu bangsa. Gerakan kepemudaaan ini diawali dengan berdirinya Jong Java, disusul oleh Jong Sumateranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, dan Jong Celebes.
Upaya kelompok pemuda yang dirintis sejak lama itu mencetuskan cita-citanya dalam suatu Kongres Pemuda II di Jakarta pada tanggal 26-28 Oktober 1928. Isi pernyataan para pemuda yang berasal dari seluruh organisasi kepemudaan ini menanamkan suatu cita-cita Indonesia Bersatu.
Isi pernyataan yang dikenal pula dengan istilah Sumpah Pemuda itu berbunyi :
Kami Bangsa Indonesia mengaku....
·Bertanah air satu, tanah air Indonesia
·Berbangsa satu, Bangsa Indonesia
·Berbahasa satu, Bahasa Indonesia
Perjuangan rakyat Indonesia pada tahun 1930-an sampai tahun 1940-an ditandai oleh semakin banyaknya organisasi yang bergerak di bidang politik yang pada dasarnya mengarahkan tujuannya untuk mencapai kemerdekaan dari penjaajh (imperialisme) tersebut antara lain :