Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 29 Juni 2009

Aliran Pendidikan

Di dunia dikenal beberapa aliran utama filsafat pendidikan yang di antaranya dapat diuraikan berikut ini.
1. Perenialisme
Filsafat Pendidikan Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan regresif yaitu menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji agar nilai-nilai tersebut mempunyai kedudukan vital bagi pembangunan kebudayaan. Belajar menurut perennialisme adalah latihan mental dan disiplin jiwa sehingga belajar hendaknya berdasar atas faham bahwa manusia pada hakekatnya rasionalistis. Pendidikan menurut para perennialis adalah suatu persiapan untuk hidup. Mereka mengatakan bahwa kenyataan adalah dunia akal, kebenaran hanya bisa diungkap melalui penelitian dan kebaikan hanya bisa ditemukan dalam rasionalitas sendiri. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan Ortimer Adler
Perennialisme
(a) Berhubungan dengan perihal sesuatu yang terakhir. Cenderung menekankan seni dan sains dengan dimensi perennial yang bersifat integral dengan sejarah manusia.
(b) Pertama yang harus diajarkan adalah tentang manusia, bukan mesin atau teknik. Sehingga tegas aspek manusiawinya dalam sains dan nalar dalam setiap tindakan.
(c) Mengajarkan prinsip-prinsip dan penalaran ilmiah, bukan fakta.
(d) Mencari hukum atau ide yang terbukti bernilai bagi dunia yang kita diami.
(e) Fungsi pendidikan adalah untuk belajar hal-hal tersebut dan mencari kebenaran baru yang mungkin.
(f) Orientasi bersifat philosophically-minded. Jadi, fokus pada perkembangan personal.
(g) Memiliki dua corak:
(1) Perennial Religius: Membimbing individu kepada kebenaran utama (doktrin, etika dan penyelamatan religius). Memakai metode trial and error untuk memperoleh pengetahuan proposisional.
(2) Perennial Sekuler: Promosikan pendekatan literari dalam belajar serta pemakaian seminar dan diskusi sebagai cara yang tepat untuk mengkaji hal-hal yang terbaik bagi dunia (Socratic method). Disini, individu dibimbing untuk membaca materi pengetahuan secara langsung dari buku-buku sumber yang asli sekaligus teks modern. Pembimbing berfungsi memformulasikan masalah yang kemudian didiskusikan dan disimpulkan oleh kelas. Sehingga, dengan iklim kritis dan demokratis yang dibangun dalam kultur ini, individu dapat mengetahui pendapatnya sendiri sekaligus menghargai perbedaan pemikiran yang ada.

2. Essensialisme
Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda.
Menurut para essensialis, dalam dunia pendidikan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menimbulkan pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Sehingga menyebabkan pendidikan kehilangan arah.
Dengan demikian pendidikan harus bersendikan pada nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas yaitu nilai yang memiliki tata yang jelas dan telah teruji oleh waktu. Prinsip essensialisme menghendaki agar landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang essensial dan bersifat menuntun.

Essensialisme
(a) Berkaitan dengan hal-hal esensial atau mendasar yang seharusnya manusia tahu dan menyadari sepenuhnya tentang dunia dimana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan hidupnya.
(b) Menekankan data fakta dengan kurikulum yang tampak bercorak vokasional.
(c) Konsentrasi studi pada materi-materi dasar tradisional seperti: membaca, menulis, sastra, bahasa asing, matematika, sejarah, sains, seni dan musik.
(d) Pola orientasinya bergerak dari skill dasar menuju skill yang bersifat semakin kompleks.
(e) Perhatian pada pendidikan yang bersifat menarik dan efisien.
(f) Yakin pada nilai pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan itu sendiri.
(g) Disiplin mental diperlukan untuk mengkaji informasi mendasar tentang dunia yang didiami serta tertarik Progressivism
Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
3. Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Progresivisme mempunyai konsep yang didasari pada oleh kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar , dapat menghadapi dan mengatasi masalah yang bersifat menekan atau mengancam keberlangsungan manusia itu sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut aliran ini tidak setuju adanya pendidikan yang bercorak otoriter karena diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff

Progresivisme
(a) Suka melihat manusia sebagai pemecah persoalan (problem-solver) yang baik.
(b) Oposisi bagi setiap upaya pencarian kebenaran absolut.
(c) Lebih tertarik kepada perilaku pragmatis yang dapat berfungsi dan berguna dalam hidup.
(d) Pendidikan dipandang sebagai suatu proses.
(e) Mencoba menyiapkan orang untuk mampu menghadapi persoalan aktual atau potensial dengan keterampilan yang memadai.
(f) Mempromosikan pendekatan sinoptik dengan menghasilkan sekolah dan masyarakat bagi humanisasi.
(g) Bercorak student-centered.
(h) Pendidik adalah motivator dalam iklim demoktratis dan menyenangkan.
(i) Bergerak sebagai eksperimentasi alamiah dan promosi perubahan yang berguna untuk pribadi atau masyarakat.
4. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.
Rekonstruksionisme
(a) Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan penyelesaian problema sosial yang signifikan.
(b) Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan tambal-sulam) para Progresivist
(c) Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan.
(d) Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan.
(e) Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya.
(f) Learn by doing! (Belajar sambil bertindak).

TOPIK – TOPIK LINTAS KURIKULUM YANG BERPUSAT PADA SISWA

Bahasa Indonesia mempunyai posisi strategis dalam kurikulum sekolah karena diajarkan mulai dari sekolah dasr sampai perguruan tinggi dan juga sebagai bahasa pengantar dalam menyampaikan setiap mata pelajaran. Semakin tinggi kemampuan berbahasa Indonesia, semakin mudah yang bersangkutan memahami dan menguasai materi mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu, dalam kenyataan bahwa orang yang tinggi dan luas pengetahuannya, lancar pula menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Kaitan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lain di sekolah, tidak hanya dalam bahasa pengantar. Kaitan antar mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lainitu dapat dilihat dalam topik – topik pembicaraan materi pelajaran. Keterpaduan dalam bahan pembelajaran tersebut memberikan keuntungan bagi mata pelajaran bahasa Indonesia maupun bagi mata pelajaran lainnya.
Dalam GBPP mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Dasar terdapat 6 butir pokok yang berkaitan dengan bahan pembelajaran. Yaitu ;
1. Wacana sastra dapat dipakai sebagai bahan pembelajaran bahasa.
2. Bahana pembelajaran kebahasaan menacakup lafal, ejaan dan tanda baca, kosakata serta struktur dan wacana.
3. Bahan pembelajaran pemahaman diambil dari membaca.
4. Bahan pembelajaran penggunaan diambil dari bahanberbicara dan menulis.
5. Bahan pembelajaran bahasa dan sastra dapat dipadukan dengan bahan mata pelajaran lain seperti IPA, IPS, Matematika, dan lain-lain.
6. Bahan pembelajaran bahasa dan sastra kelas I dan II SD mencakup pelajaran IPA dan IPS
Berikut ini disajikan 3 pembelajaran dengan langkah-langkah pelaksanannya, dengan bahan pembelajaran puisi, wacana percakapan, dan instgruksi olah raga :
a) Bahan Pembelajaran Puisi
Pembelajaran : Menceritakan isi puisi di depan kelas
Bahan : Puisi
Langkah-Langkah :
1) Menyimak puisi.
2) Membaca puisi dalam hati
3) Meniru bacaan puisi.
4) Mengidentifikasi kata-kata sukar.
5) Mencari makna kata sukar dalam kamus.
6) Menafsirkan makna larik demi larik, keseluruhan inti puisi.
7) Menjawab pertanyaan mengenai puisi.
8) Menyusun paraphrase puisi.
9) Menceritakan isi puisi di depan kelas.
b) Bahan Pembelajaran Wacana Percakapan
Pembelajaran : Memraktikkan percakapan di depan kelas
Bahan : Wacana percakapan
Langkah-langkah :
1) Menyimak wacana.
2) Membaca wacana dalam hati
3) Meniru bacaan wacana.
4) Mengidentifikasi kata-kata sukar.
5) Mencari makna kata sukar dalam kamus.
6) Menafsirkan makna larik demi larik, keseluruhan inti wacana.
7) Menjawab pertanyaan mengenai wacana.
8) Menyusun paraphrase wacana.
9) Menceritakan isi wacana di depan kelas
c) Bahan Pembelajaran Instruksi Senam Pemanasan
Pembelajaran : Menyimak dan melaksakan perintah (sambil bermain).
Bahan : Instruksi Senam Pemanasan.
Langkah-langkah :
1) Berjalan di tempat.
2) Berlari mengelilingi halaman sambil bernyanyi.
3) Berjalan di tempat kembali.
4) Menganggunakan kepala ke atas 2x , ke bawah 2x.
5) Mengangkat kedua tangan ke atas, gerakan ke belakang 2x, dan kedepan 2x.
6) Mengangkat kaki ke belakang 2x, kaki kanan tetap menginjak tanah.
7)
Dalam pemilihan bahan pembelajaran tersebut harus berpusat dan disesuaikan pada pengalaman, minat, kebutuhan, lingkungan, dan sesuai dengan taraf kemampuan siswa. Tentu bahannya pun harus relevan dengan tema, pembelajaran, dan tujuan khusus pembelajaran.
Berdasarkan syarat- syarat yang harus dipenuhioleh suatu pembelajaran bahasa dan kaitannya dengan bahan mata pelajaran lain, maka dapatlah disusun pedoman topik-topik ( bahan pembelajaran bahasa) seperti berikut :
Pedoman pemilihan
Topik – topik Lintas Kurikulum
a. Sesuai dengan tema.
b. Sesuai dengan kompetensi dasar.
c. Sesuai dengan indikator hasil belajar.
d. Sesuai dengan :
a) Pengalaman,
b) Minat,
c) Kebutuhan,
d) Lingkungan,
e) Taraf kemampuan siswa.
e. Sesuai dengan materi pokok mata pelajaran terkait.

Filsafat Dalam Dunia Pendidikan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka dalam membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.
Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antara pendidik dan anak didik untuk bersama-sama mencapai tujuan pendidikan, yaitu kedewasaan. Dalam interaksi tersebut akan terjadi suatu rentetan perbuatan pendidikan. Apabila perbuatan tersebut disengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.

A. Hasil Observasi Secara Deskripsi
Setelah penulis melakukan observasi dan wawancara, dapat disimpulkan bahwa teknik pengajaran atau penyampaian yang dilakukan oleh seorang guru kelas VI SD, adalah sebagai berikut :
1. Tugas guru dalam prose belajar mengajar sebagai fasilitator, memberi dorongan dan kemudahan kepada siswa untuk lebih memahami suatu materi yang disampaikan.
2. Sebelum mengawali pembelajaran, guru melakukan interaksi tanya jawab kepada siswa agar siswa dapat mengerti dan memahami materi sebelumnya.
3. Pada proses belajar, guru melakukan proses Flash Back, yaitu mengulang kembali materi sebelumnya, agar siswa dapat cepat mengingat materi tersebut.
4. Pada proses belajar mengajar, guru juga mewajibkan agar siswa mempunyai buku penunjang pembelajaran, dan tugas guru sebagai penyampai materi dan siswa sudah mempelajarinya.
5. Dalam proses mengajar, guru menyelingnya dengan melakukan tanya jawab.
6. Setelah selesai melakukan proses mengajar, guru memberi tugas kepada siswa untuk mengerjakan soal.
7. Dalam proses menguji kemampuan siswa, guru lebih menggunakan tes lisan, agar guru bisa mengetahui kemampuan masing-masing siswa.

B. Hasil Kajian dan Teoritis

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa pendidikan merupakan kegiatan yang hanya dilakukan manusia dengan lapangan yang sangat luas, yang mencakup semua pengalaman serta pemikiran manusia tentang pendidikan.
Setelah penulis menguraikan teknik pembelajaran guru kelas VI SD, maka dapat disimpulkan bahwa teknik tersebut menggunakan metode filsafat pendidikan pragmatisme yang didasarkan atas fakta-fakta yang sudah diobservasi, dipahami, serta dibicarakan sebelumnya.
Istilah pragmatisme berasal dari perkataan “ pragma” artinya praktik atau aku berbuat. Maksudnya bahwa makna segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan. Menurut teori-teori psikologis itu merupakan pandangan-pandangan dunia yang komprehensif yang berfungsi sebagai basis bagi guru dalam pendekatan praktek pengajaran.

1. Berdasarkan Teoritis Para Tokoh
Dari konsep pola dasar pengajaran yang dilakukan guru dalam penyampaian proses belajar mengajar, merupakan suatu pola mengajar formal yang sesuai dengan teori psikologi belajar yang dijadikan panutannya. Pola ini dikembangkan oleh J. Herbart yang dilandasi oleh teori belajar asosiasi. Pola mengajar ini terdiri atas lima langkah sebagai berikut :
a) Persiapan ( preparation )
Guru berusaha mengungkapkan kembali bahan apersepsi ( materi pelajaran yang tersimpan di dalam ingatan siswa )
b) Penyajian ( presentation )
guru menyampaikan bahan baru kepada kelas berupa bahan pokok, dilengkapi dengan contoh dan ilustrasi.
c) Asosiasi dan perbandingan ( association and comparation )
guru menghubungkan bahan yang terkait, baik dengan materi pelajaran lainnya maupun dengan hal hal praktis di masyarakat
d) Kesimpulan ( generalization )
guru bersama para siswa mengambil kesimpulan berdaasarkan bahan pelajaran yang baru disajikan
e) Penerapan ( application )
guru memberikan tugas pada siswa atau sejumlah pertanyaan ulangan .

Menurut seorang filosof Yunani Heracleitos, mengemukakan teori pragmatisme yaitu “ panta rei “ artinya mengalir terus-menerus. Ia berpendapat bahwa tidak ada sungai yang dialiri oleh air yang sama. Manusia dipandang sebagai makhluk fisik sebagai hasil evolusi biologis, social, dan psikologis, karena manusia dalam keadaan terus-menerus berkembang. Manusia hidup dalam keadaan menjadi ( becoming ), secara terus-menerus “ on goingness “. Manusia secara mendasar adalah plastis dan dapat berubah. Anak merupakan organisme yang aktif, secara terus-menerus merekontruksi dan menginterprestasi serta mengorganisasi kembali pengalaman-pengalamannya.
Tema pokok filsafat pragmatisme adalah :
a) Esensi realitas adalah perubahan
b) Hakikat social dan bilogis manusia yang esensial
c) Relativitas nilai
d) penggunaan intelegensi secara kritis

Watak pragmatisme adalah humanistis dan menyetujui suatu dalil “ manusia adalah ukuran segala-galanya “ ( man is the measure of all things ).
Menurut John Dewey mengatakan bahwa, pengalaman merupakan suatu interaksi antara lingkungan dengan organisme biologis. Selanjutnya John Dewey mengemukakan perlunya atau pentingnya pendidikan, karena berdasarkan atas tiga pokok pemikiran, yaitu :


 Pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup
 Pendidikan sebagai pertumbuhan, dan
 Pendidikan sebagai fungsi social.

Pada dasarnya pendidikan bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar, dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan kekuatan-kekuatan laten sendirinya ( unfolding ).
Pragmatisme menyakini bahwa pikiran anak itu aktif dan kreatif., tidak secara pasif begitu saja menerimaapa yang diberikan gurunya. Pengetahuan dihasilkan dengan transaksi antara manusia dengan lingkungannya, dan kebenaran adalah termasuk pengetahuan. Dalam situasi belajar, guru seyogyanya menyusun situasi-situasi belajar sekitar masalah utama yang dihadapi masyarakat, yang pemecahannya diserahkan pada siswa-siswa untuk sampai kepada pengertian lebih baik tentang lingkungan social maupun lingkungan fisik.
Pragmatisme merupakan kreasi filsafat dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme. Esensi ajarannya, hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan priabdi dan masyarakat.
Dalam menentukan kurikulum, setiap pelajaran tidak boleh terpisah, harus merupakan suatu kesatuan. Caranya adalah dengan mengambil suatu masalah menjadi pusat segala kegiatan. Metode yang sebaiknya digunakan dalam pendidikan adalah metode disiplin, bukan dengan kekuasaan. Kekuasaan tidak dapat dijadikan metode pendidikan karena merupakan suatu kekutan yang dating dari luar, dan didasari oleh suatu asumsi bahwa ada tujuan yang baik dan benar secara objektif, dan si anak dipaksa untuk mencapai tujuan tersebut.
Menurut Kneller mengatakan bahwa filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat ditinjau oleh sains pendidikan. Terdapat hubungan yang kuat antara perilaku guru dan keyakinannya, yaitu :

1) Keyakinan mengenai pelajaran dan pembelajaran
2) Keyakinan mengenai siswa
3) Keyakinan mengenai pengetahuan
4) Keyakinan mengenai apa yang perlu diketahui

2. Teori Pendidikan

Implikasi teori epistomologi terhadap pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar di sekolah, yaitu :
a) Guru harus menyusun situasi belajar di sekitar masalah khusus, yang pemecahannya diserahkan kepada siswa.
b) Guru harus memelihara keinginan atau dorongan anak untuk meneliti.
c) Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk :
 Belajar apa yang ia ingin mengetahuinya
 Selalu ingin mengetahui yang berkaitan dengan pelajaran, seperti sains, bahasa, sejarah, dan lain-lainnya.

3. Peranan Seorang Guru

Jadi, dalam proses belajar mengajar, ada beberapa saran bagi guru yang harus diperhatikan, terutama dalam menghadapi siswa dalam kelas, yaitu :
 Guru tidak boleh memaksakan suatu ide atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan siswa.
 Guru hendaknya menciptakan suatu situasi yang menyebabkan siswa akan merasakan adanya suatu masalah yang ia hadapi, sehingga timbul minat untuk memecahkan masalah tersebut.
 Untuk membangkitkan minat anak, hendaklah guru mengenal kemampuan serta minat masing-masing siswa.
 Guru harus bisa menciptakan situasi yang menimbulkan kerja sama dalam belajar, antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, begitu pula antara guru dengan guru.

Jadi, tugas guru dalam prose belajar mengajar adalah sebagai fasilitator, memberi dorongan dan kemudahan kepada siswa untuk bekerja bersama-sama, menyelidiki dan mengamati sendiri, berpikir dan menarik kesimpulan sendiri, membangun dan menghiasi sendiri sesuai dengan minat yang ada pada dirinya.
Guru di sekolah harus merupakan suatu petunjuk jalan serta pengamat tingkah laku anak, untuk mengetahui apakah yang menjadi minat perhatian anak. Dengan mengetahui perilaku anak tersebut, guru dapat menentukan masalah apa yang akan dijadikan pusat perhatian anak.
Salah satu tugas peran guru yaitu sebagai pembimbing, maka seorang guru itu harus:
a. mengumpulkan data tentang siswa
b. mengamati tingkah laku siswa dalam situasi setiap hari
c. mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus
d. mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orang tua siswa
e. bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga lembaga lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa
f. membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkan dengan baik
g. menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu
h. menyusun program bimbingan sekolah bersama sama
i. meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun diluar sekolah

Berdasarkan uraian diatas jelaslah bahwa peran guru, baik sebagai pengajr atau pembimbing, pada hakikatnya saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

4. Pandangan Siswa terhadap Guru
Sifat-sifat atau karakteristik guru-guru yang disenangi oleh para siswa adalah sebagai berikut :
1) demokratis
2) suka bekerja sama ( kooperatif )
3) baik hati
4) sabar
5) adil
6) konsisten
7) bersifat terbuka
8) suka menolong, dan
9) ramah tamah
Selain itu, sifat-sifat lain yang disenangi siswa adalah :
1) suka humor
2) memiliki bebagai macam ragam minat
3) menguasai bahan pelajaran
4) fleksibel, dan
5) menaruh minat yang baik terhadap siswa

News

Loading...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management